TANGERANG, natademokrasi.com – Inilah wajah memalukan Pasar Segitiga Balaraja hari ini.
Potret terbaru yang diambil dari atas flyover menunjukkan dengan jelas: lahan seluas lapangan bola di jantung Kota Balaraja berubah menjadi kubangan air, ditumbuhi rumput liar, dan dipenuhi tiang-tiang besi tanpa bangunan.
Selama 25 tahun. Tidak ada pembangunan. Tidak ada kejelasan. Hanya pembiaran.
“Kondisi ini adalah bukti nyata pengabaian. Lahan strategis tapi dibiarkan jadi sarang nyamuk. Ini bukan lagi mangkrak, ini pembiaran!” tegas Dodi Farrurozi, Pimpinan Forum Masyarakat Peduli Balaraja (FMPB), Minggu, 30 Agustus 2026.
*Strategis Tapi Ditelantarkan*
Dari atas flyover, kontrasnya sangat menyakitkan. Di depan, puluhan pedagang masih bertahan di kios semi-permanen dengan atap seng karatan dan terpal biru. Mereka bertahan hidup di atas tanah yang statusnya tidak jelas.
Di belakangnya, terbentang lahan eks Terminal Balaraja yang dulu ramai. Kini hanya ada genangan, pondasi mangkrak, dan rumput liar diatas atap gedung yang mangkrak berpuluh tahun.
Padahal, di sekelilingnya berdiri gedung pemerintahan, tower, dan pusat ekonomi. Lokasi ini adalah simpul penghubung Jakarta-Merak dan Tangerang-Serang.
*FMPB & 10 Ormas: Cukup!*
Pembiaran inilah yang membuat FMPB geram. Bersama Pemuda Pancasila, BPPKB, GRIB, Badak Banten, LMPI, dan 5 ormas lain, mereka akhirnya bersatu.
Mereka menyebut kondisi ini sudah keterlaluan dan mendesak Pemkab Tangerang bertanggung jawab.
“Jangan sampai anak cucu kita bertanya, kenapa orang tua dulu diam saat Balaraja ditidurkan 25 tahun. Kami bergerak karena sudah muak menunggu,” kata Abah Engkos Kosasih, sepuh Balaraja yang mengaku 4 kali gagal menyuarakan ini di Musrenbang.
*Tuntutan: Segera Tata, atau Serahkan ke Warga*
FMPB menuntut 2 hal: Pertama, Pemkab Tangerang segera punya grand design penataan Pasar Segitiga. Kedua, libatkan pedagang dan masyarakat, jangan gusur sepihak.
Gagasannya jelas: sulap kawasan ini jadi Sentra Kuliner dan UMKM “Balaraja Hebat Jasa”.
“Kalau pemerintah tidak mampu, duduk bareng sama kami. Bareng-bareng urang kabehan. Jangan biarkan aset rakyat ini terus membusuk,” pungkas Dodi.
Hingga berita ini diturunkan, natademokrasi masih menunggu jawaban resmi Pemkab Tangerang.
25 tahun sudah cukup. Warga Balaraja menuntut jawaban. **JOHANDA SIANTURI/OIM…

