TANGERANG, natademokrasi.com – Selama seperempat abad, kawasan Pasar Segitiga Balaraja, eks Terminal Balaraja, dibiarkan terlantar. Padahal lokasinya berada di titik simpul ekonomi Kabupaten Tangerang. Kini kesabaran warga habis.
Forum Masyarakat Peduli Balaraja (FMPB) bersama 10 organisasi kemasyarakatan dan para sepuh Balaraja menyatakan sikap. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Tangerang segera menata ulang kawasan tersebut agar tidak terus menjadi “luka” 25 tahun di jantung Balaraja.
“Kondisi ini sudah terlalu lama. Balaraja seperti tertidur. Sekarang waktunya kita bangun, duduk bersama, dan bergerak untuk perubahan,” kata Dodi Farrurozi, Inisiator FMPB, usai pertemuan lintas elemen di Balaraja, Minggu [isi tanggal].
*10 Ormas dan Para Sepuh Kompak Bersuara*
Pertemuan itu menjadi pemandangan langka. Ormas yang kerap berseberangan kini duduk satu meja. Hadir perwakilan Pemuda Pancasila, LMPI, Satria Banten/PPBNI, BPPKB Banten, LMP, Badak Banten, Satgas Banten TTKKDH, LAPBAS, hingga GRIB.
FMPB menegaskan gerakan ini murni kepentingan warga, bukan tunggangan politik atau organisasi.
“Ini bukan gerakan satu kelompok dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kita berkumpul karena memiliki kepedulian yang sama. Semua atas nama Balaraja,” tegas Dodi.
Pernyataan senada disampaikan para sepuh. Abah Engkos Kosasih, tokoh masyarakat Balaraja, mengaku frustrasi karena aspirasi yang sama sudah 4 kali ia sampaikan lewat forum Musrenbang namun tak ada tindak lanjut nyata.
“Kalau kita bergerak bersama, suara masyarakat tentu akan semakin kuat dan pemerintah bisa melihat bahwa ini memang kebutuhan bersama,” ujar Abah Kosasih.
Dukungan juga datang dari purnawirawan. AKP Purn. Akhmad Suryadi dan AKBP Purn. H. Fahrudin menekankan perubahan hanya bisa terjadi jika ada sinergi antara masyarakat dan pemerintah.
*Potret Kawasan: Kumuh, Semrawut, 30 Pedagang Terjebak*
Hasil penelusuran NataDemokrasi dan keterangan peserta, Pasar Segitiga saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Infrastruktur rusak, tata kelola buruk, kebersihan minim, dan bau menyengat.
Ironisnya, di tengah kondisi itu masih ada sekitar 30 pedagang yang bertahan dengan status kontrak kios. Nasib mereka menggantung tanpa kepastian.
“Mereka butuh kepastian hukum dan tempat usaha yang layak. Jangan biarkan ekonomi rakyat kecil mati di lahan strategis,” kata salah satu peserta pertemuan.
*Tuntutan: Jadikan Sentra Kuliner “Balaraja Hebat Jasa”*
FMPB tidak hanya mengkritik. Mereka membawa gagasan. Kawasan Pasar Segitiga diusulkan untuk dikembangkan menjadi sentra kuliner dan UMKM yang representatif.
Alasannya kuat. Balaraja memiliki modal sejarah: Tangsi, Pasar Belanda, sekolah guru, hingga posisinya sebagai simpul penghubung Jakarta-Merak dan Tangerang-Serang. Ditambah kehadiran kawasan industri yang bisa jadi pasar.
“Kami mendorong kolaborasi Pemkab Tangerang, masyarakat, swasta, dan industri. Bangun dengan perencanaan matang, perhatikan pedagang, tata ruang, dan budaya,” kata Dodi.
Gagasan ini dibungkus dalam semangat “Balaraja Hebat Jasa” dan slogan “Bareng-bareng urang kabehan”.
*Tantangan ke Pemkab Tangerang*
Pertemuan ini adalah bentuk gerakan _bottom-up_. Pesan FMPB jelas: jangan tunggu semua datang dari atas.
Media siber natademokrasi.com berupaya mengkonfirmasi rencana penataan Pasar Segitiga kepada Dinas terkait di Pemkab Tangerang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban resmi.
Warga kini menunggu. Apakah 25 tahun penantian akan berakhir, atau Pasar Segitiga akan kembali “tidur” lebih lama. **JOHANDA SIANTURI/OIM…

