TANGERANG, natademokrasi.com – “REFLEKSI 62 TAHUN PARTAI GOLKAR: KEKUATAN ELEKTORAL, TANGGUNG JAWAB POLITIK, DAN AGENDA PEMBANGUNAN KABUPATEN TANGERANG”

Oleh: Hj. Intan Nurul Hikmah, BBA, SE
Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tangerang

Peringatan HUT ke-62 Partai Golkar pada 20 Oktober 2026 menjadi momentum evaluasi. Sekber Golkar berdiri 20 Oktober 1964, 62 tahun perjalanan ini menjadi bagian dinamika politik nasional, termasuk di Kabupaten Tangerang.
Kabupaten Tangerang adalah daerah industri, perdagangan, jasa, dan permukiman yang terus tumbuh. Pertumbuhan itu membawa peluang sekaligus tantangan: lapangan kerja, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga lingkungan.
Keberhasilan partai tidak cukup diukur dari usia organisasi atau besarnya struktur, melainkan sejauh mana mampu menjalankan fungsi representasi, mengartikulasikan aspirasi, menawarkan solusi kebijakan, dan mempertanggungjawabkannya kepada publik.

*Membaca Realitas Pembangunan*
BPS Kabupaten Tangerang dalam Statistik Daerah 2025 mencatat jumlah penduduk miskin 265,90 ribu jiwa atau 6,42%, IPM 76,74, dan TPT 5,94%.
Data ini harus menjadi titik awal agenda politik berbasis bukti. Pertanyaannya bukan hanya seberapa besar ekonomi tumbuh, tapi sejauh mana pertumbuhan itu memberi kesempatan luas bagi masyarakat meningkatkan kualitas hidup.
*Kemenangan Elektoral dan Mandat Masyarakat*
Fakta penting, pada Pemilu Legislatif 2024 Partai Golkar memperoleh *295.158 suara* untuk DPRD Kabupaten Tangerang, tertinggi di tingkat kabupaten. PDI Perjuangan memperoleh 263.893 suara. Keduanya sama-sama meraih 9 kursi dari 55 kursi DPRD.
Posisi ini tercermin dengan dilantiknya Muhammad Amud sebagai Ketua DPRD Kabupaten Tangerang periode 2024-2029 pada 3 Oktober 2024.
Namun kemenangan elektoral adalah mandat politik yang membawa tanggung jawab. Dukungan pemilih harus diterjemahkan menjadi kinerja kelembagaan: fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan yang profesional, transparan, dan berorientasi kepentingan publik.
*Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi sebagai Prioritas*
1. *Pendidikan sebagai investasi jangka panjang:* Bukan hanya gedung, tapi kualitas pembelajaran, kompetensi guru, pemerataan akses, dan link and match dengan dunia kerja industri di Tangerang.
2. *Kesehatan sebagai fondasi kesejahteraan:* Keterjangkauan fasilitas, mutu layanan, dan perhatian kepada keluarga berpenghasilan rendah, anak, dan lansia.
3. *Ekonomi kerakyatan dan lapangan kerja:* Penguatan UMKM, akses pemasaran, kemitraan usaha besar-lokal, serta perlindungan pekerja.
*Mengawal Pemerintahan dan Akuntabilitas*
Kontribusi Golkar harus dijelaskan proporsional. Program pemerintah tidak otomatis diklaim sebagai hasil satu partai. Sikap politik yang konstruktif: mendukung kebijakan yang berbasis data dan bermanfaat, mengkritik dengan argumentasi dan alternatif.
RPJMD Kabupaten Tangerang 2025-2029 harus menjadi acuan evaluasi: apakah program sesuai sasaran, anggaran transparan, hasil dirasakan masyarakat, dan kesenjangan target diperbaiki.
*Konsolidasi dan Agenda ke Depan*
Konsolidasi substantif harus meningkatkan kapasitas kader, pendidikan politik, mekanisme aspirasi, dan adaptasi teknologi informasi. Kaderisasi beri ruang bagi generasi muda dan perempuan.
Lima agenda ke depan:
1. Pemetaan persoalan berbasis data dan aspirasi warga
2. Agenda advokasi dengan indikator dan jadwal evaluasi yang jelas
3. Komunikasi teratur dengan masyarakat, ormas, pelaku usaha, dan pemuda
4. Mendorong transparansi anggaran dan pengawasan program
5. Evaluasi berkala berbasis hasil, bukan sekadar keluaran
Penutup: Kemenangan adalah Amanah, Pengabdian adalah Ukuran
62 tahun perjalanan Golkar adalah sejarah panjang. Capaian suara terbesar dan posisi Ketua DPRD adalah amanah besar. Kepercayaan masyarakat tidak dipelihara lewat capaian masa lalu, tapi lewat kinerja, keterbukaan, dan kesediaan dievaluasi.
Momentum HUT ke-62 harus menjadi pengingat: sejarah adalah pembelajaran, masa depan menuntut pembaruan. Dengan kaderisasi kuat, dialog luas, kebijakan berbasis data, dan akuntabilitas, Golkar Kabupaten Tangerang dapat terus mengambil bagian dalam demokrasi dan pembangunan sesuai perannya.
_Pada akhirnya, kemenangan elektoral merupakan capaian politik, sedangkan kualitas pengabdian merupakan tanggung jawab yang harus terus dibuktikan. **J.SIANTURI/IMAM…

