PANDEGLANG, natademokrasi.com – Lampu teplok berganti sorot lampu panggung. Tikar biru terbentang dari halaman masjid hingga ke pelataran. Aroma kopi dan kue berbaur dengan lantunan sholawat yang mengalun pelan.

Pada, Minggu malam, 13 September 2026 di Kampung Salawi Girang RT 001/006, Desa Palanyar, Kecamatan Cipeucang kabupaten Pandeglang waktu seolah berhenti hening dan Khidmat.
Sekitar lebih kurang 2 ribu pasang mata tertuju ke satu titik: mimbar tempat kisah Nabi Muhammad SAW akan kembali diceritakan.

Bagi warga Palanyar, Maulid bukan sekadar peringatan hari kelahiran. Ia adalah jeda. Jeda dari hiruk sawah, jeda dari kerasnya hidup, untuk kembali mengingat siapa yang harus diteladani.
*Gotong Royong Pemuda dan Warga*
Acara ini lahir dari tangan-tangan muda. “Pemuda Bersama Warga Salawi Girang 001/006” menjadi nahkoda. Ketua Panitia, Mang Rudi, berdiri sejak sore mengatur sound system dan tempat duduk serta segala kebutuhan dalam acara tersebut.
“Kami tidak punya dana besar, Pak. Tapi Alhamdulillah warga kompak. Yang punya sound bawa sound. Yang bisa masak, masak. Ini murni swadaya,” ujarnya di sela kesibukan.

Undangan menyebar. Tidak hanya warga Salawi Girang. Kp. Cisantri, Kp. Kadu Balehor, Kp. Pasar Inun, Kp. Talaga Pahed, Kp. Perumasan, Kp. Salawi Tengah dan Hilir turut hadir dan lainnya serta dari anak-anak mengaji sampai kakek-kakek bersorban putih, semua datang.
Tepat, pukul 19.11 WIB, halaman masjid sudah penuh. Laki-laki duduk bersila di tikar. Botol air mineral dan bungkusan nasi menjadi teman selama acara. Di sudut beberapa remaja membantu membagikan konsumsi.
*Ceramah yang Menampar dan Menyejukkan*
Puncak acara dimulai saat KH Amin Fauzi naik ke mimbar. Suaranya tenang, tapi menusuk. Ia tidak hanya berceramah tentang sejarah kelahiran Nabi saja namun beliau bicara tentang masyarakat Palanyar hari ini yang antusias hadir dalam suasana sakral penuh kekeluargaan.
Hening. Beberapa jamaah mengusap mata.
“Jadikan Peringatan Maulid Nabi Sebagai Moment Meningkatkan Iman dan Ketaqwaan Kepada Allah SWT” – tema yang terpampang di spanduk besar itu, benar-benar diamalkan malam itu. Bukan dihafal, tapi dirasa.
KH Amin Fauzi mengingatkan, di tengah gempuran media sosial dan ekonomi yang sulit, akhlak Nabi adalah kompas. “Kalau kita mau Desa Palanyar aman, tentram, mulai dari rumah. Ayah jadi contoh, ibu jadi teladan, anak jadi penyejuk.”
*Hadirnya Pemerintah Desa*
Kehadiran Kepala Desa Palanyar, Nana Sudarna, menambah khidmat. Ia duduk di shaf depan, bersanding dengan tokoh agama dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Nana tidak banyak bicara politik. Ia bicara syukur.
“Saya sebagai Kades hanya bisa mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada panitia acara dan pemuda yang kompak dalam menyukseskan acara hingga akhir, terima kasih kepada warga 7 kampung yang hadir. Ini bukti Palanyar masih kuat. Kuat karena agamanya, kuat karena kebersamaannya,” kata Nana Sudarna.
Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda tahunan. “Pemerintah desa siap mendukung. Karena membangun desa tidak hanya dengan semen dan aspal, tapi juga dengan iman dan taqwa.”
*Sholawat Penutup dan Harapan*
Acara dipandu apik oleh Karim selaku pembawa acara. Rangkaian ditutup dengan doa bersama dan pembacaan sholawat. Sekitar pukul 23.00 WIB, warga mulai berpamitan. Tidak ada yang terburu-buru. Banyak yang masih duduk, bersalaman, bertukar cerita.
Bagi Edi Rukiyat, warga Kp. Salawi Hilir, Maulid malam itu berbeda.
“Sudah lama tidak lihat kampung seramai ini. Rame tapi adem. Mudah-mudahan tahun depan lebih ramai lagi, dan Palanyar makin berkah,” ucapnya.
Langit Cipeucang malam itu cerah. Di bawahnya, lebih kurang 2 ribu warga baru saja mengikat janji yang sama: meneladani Rasulullah, dimulai dari hal kecil di kampung sendiri.
Karena Maulid, pada akhirnya, bukan tentang seberapa meriah acaranya. Tapi tentang seberapa banyak akhlak Nabi yang kita bawa pulang.
**JOHANDA SIANTURI…

