JAKARTA, natademokrasi.com — Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk membiayai para wakil rakyat kembali menjadi sorotan publik. Aktivis Hefi Irawan mengungkap perhitungan agregat biaya gaji dan tunjangan legislator di tingkat pusat hingga daerah yang disebut mencapai sekitar Rp1,099 triliun per bulan.
Berdasarkan data yang disampaikan hefi irawan komponen anggaran tersebut terdiri atas:
– DPR RI: sekitar Rp133,4 miliar per bulan.
– DPRD Provinsi: sekitar Rp117,9 miliar per bulan.
– DPRD Kabupaten/Kota: sekitar Rp787,9 miliar per bulan.
Jika angka tersebut dijumlahkan, totalnya mencapai sekitar Rp1,099 triliun setiap bulan.
Hefi irawan juga menyebut jumlah legislator yang menjadi basis perhitungan mencapai sekitar 20.462 orang. Sementara itu, besaran penghasilan yang diterima anggota DPR RI disebut dapat mencapai sekitar Rp230 juta per bulan, tergantung komponen penghasilan dan fasilitas yang diterima.
Belum Termasuk Dana Reses dan Operasional
Sorotan semakin besar karena angka tersebut disebut belum memasukkan sejumlah komponen anggaran lainnya, termasuk dana reses dan biaya operasional yang berkaitan dengan kegiatan kedewanan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai seberapa besar anggaran negara yang dialokasikan untuk membiayai lembaga legislatif dibandingkan dengan manfaat yang secara langsung dirasakan masyarakat.
“Rakyat berhak mengetahui secara transparan berapa sebenarnya biaya yang dikeluarkan negara untuk membiayai para wakilnya. Yang harus menjadi pertanyaan adalah apakah besarnya anggaran tersebut sebanding dengan kinerja dan hasil yang diberikan kepada masyarakat,” ujar hefi sebagaimana disampaikan dalam paparan yang beredar.
Publik Diminta Mengawasi
Besarnya angka anggaran tersebut juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendorong transparansi, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi publik mengenai komponen gaji, tunjangan, fasilitas, reses, serta operasional anggota legislatif.
Masyarakat tentu tidak hanya membutuhkan informasi mengenai besarnya anggaran, tetapi juga perlu mengetahui dasar hukum, mekanisme penganggaran, serta realisasi penggunaannya.
“Wakil rakyat dipilih oleh rakyat dan dibiayai oleh uang rakyat. Karena itu, rakyat memiliki hak untuk mengetahui dan mengawasi setiap rupiah yang digunakan,” tegasnya.
Lantas, bagaimana menurut Panja?
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan, besarnya biaya yang dikeluarkan negara untuk membiayai para legislator patut menjadi bahan evaluasi dan diskusi publik. Apakah besarnya anggaran tersebut sudah sebanding dengan kinerja wakil rakyat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat?
Catatan redaksi: angka-angka dalam berita ini merupakan data yang disampaikan oleh hefi irawan dan perlu diverifikasi kembali dengan dokumen anggaran resmi pemerintah serta ketentuan remunerasi DPR/DPRD yang berlaku agar tidak menimbulkan kesalahpahaman mengenai komponen penghasilan dan tunjangan legislator.**ANJLA FOSTER SIANTURI/YLPK…

